Kenapa Brand Clothing Gagal di Produksi Pertama?

Bikin brand clothing pertama itu rasanya seru.

Sudah kebayang desain keren, feed Instagram rapi, sampai momen pertama ada order masuk.

Tapi sayangnya, nggak sedikit brand yang semangatnya tinggi di awal, lalu pelan-pelan hilang setelah produksi pertama.

Padahal desainnya nggak jelek.

Produknya juga nggak buruk.

Lalu salahnya di mana?

Setelah ngobrol dengan banyak pemilik brand dan calon owner yang datang cari kain, ternyata ada beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi.

Yuk kita bedah satu per satu.

1. Salah Pilih Bahan

Ini salah satu jebakan yang paling sering terjadi.

Karena baru mulai, banyak yang fokus ke desain dulu.

Padahal yang bakal dipakai pelanggan setiap hari itu bukan desainnya.

Tapi kaosnya.

Sering ada yang memilih bahan hanya karena:

  • Harganya paling murah

  • Lagi viral

  • Dipakai brand lain

  • Katanya lebih premium

Padahal belum tentu cocok dengan konsep brand yang sedang dibangun.

Misalnya:

Brand kamu menyasar anak muda yang suka kaos santai untuk dipakai harian.

Tapi malah memilih bahan yang terlalu tebal dan berat.

Atau sebaliknya.

Ingin bikin kaos premium, tapi memilih bahan yang terlalu tipis karena mengejar harga produksi.

Makanya sebelum produksi banyak, usahakan pegang sample kainnya dulu.

Karena feeling kain di tangan sering kali berbeda dengan yang terlihat di foto.

2. Salah Hitung Modal

Banyak yang mengira modal hanya sebatas:

Harga kain + biaya jahit.

Padahal kenyataannya lebih panjang dari itu.

Masih ada:

  • Sablon atau bordir

  • Label

  • Hang tag

  • Kemasan

  • Ongkir

  • Foto produk

  • Iklan

  • Biaya marketplace

Akibatnya muncul situasi seperti ini:

Produksi sudah jalan.

Barang sudah jadi.

Tapi uang untuk jualannya malah habis duluan.

Produksi pertama seharusnya bukan soal bikin sebanyak mungkin.

Tapi memastikan bisnisnya masih bisa bernapas setelah barang jadi.

3. Kebanyakan Warna

Ini penyakit yang sering muncul karena terlalu semangat.

Awalnya mau produksi satu warna.

Lalu nambah satu.

Lalu nambah lagi.

Ujung-ujungnya jadi enam warna sekaligus.

Kelihatannya keren.

Masalahnya, stok langsung terbagi ke banyak pilihan.

Misalnya produksi 120 pcs.

Kalau dibagi ke enam warna, tiap warna cuma dapat sekitar 20 pcs.

Belum lagi dibagi ke berbagai ukuran.

Akhirnya stok jadi pecah ke mana-mana.

Ada warna yang laku.

Ada warna yang cuma jadi penghuni gudang.

Untuk produksi pertama, sering kali warna basic justru lebih aman.

Karena lebih mudah dipadukan dan pasarnya lebih luas.

4. Kebanyakan Size

Mirip seperti warna.

Niatnya ingin mengakomodasi semua orang.

Akhirnya ukuran dibuat lengkap:

XS

S

M

L

XL

XXL

XXXL

Masalahnya, belum tentu semua ukuran punya permintaan yang sama.

Hasilnya?

Ada ukuran yang habis cepat.

Ada ukuran yang masih tersisa bertahun-tahun.

Kalau belum punya data penjualan sebelumnya, lebih baik fokus ke ukuran yang paling umum terlebih dahulu.

Nanti setelah mulai ada penjualan, baru lebih mudah membaca pola ukuran pelanggan.

Produksi Pertama Itu Bukan Ajang Pamer

Banyak orang menganggap produksi pertama harus langsung sempurna.

Harus banyak warna.

Harus banyak ukuran.

Harus terlihat seperti brand besar.

Padahal produksi pertama sebenarnya lebih mirip eksperimen.

Tujuannya bukan membuktikan bahwa brand kamu besar.

Tapi mencari tahu apakah pasar benar-benar mau membeli produk yang kamu buat.

Semakin sederhana produksinya, biasanya semakin mudah juga untuk dievaluasi.

Jadi Harus Mulai dari Mana?

Kalau KawanSAM baru mau produksi pertama, coba fokus ke empat hal ini:

✅ Pilih bahan yang sesuai target market

✅ Hitung modal sampai biaya pemasaran

✅ Batasi pilihan warna di awal

✅ Fokus ke ukuran yang paling banyak dicari

Nggak harus langsung sempurna.

Karena hampir semua brand yang bertahan hari ini juga pernah melewati produksi pertama yang penuh coba-coba.

Yang penting bukan seberapa besar produksi pertamamu.

Tapi seberapa banyak pelajaran yang bisa dibawa ke produksi berikutnya. 🧵👕