Warna Favorit Belum Tentu Warna Terlaris
Kalau ditanya warna favorit, jawabannya bisa macam-macam.
Ada yang suka Sage karena lagi tren.
Ada yang suka Maroon karena kelihatan lebih dewasa.
Ada yang suka Telur Asin karena terasa fresh.
Ada juga yang suka warna-warna unik yang jarang dipakai orang.
Tapi saat masuk ke dunia produksi kaos, ada satu hal yang sering bikin kaget:
Warna favorit belum tentu warna terlaris.
Banyak brand baru yang memilih warna berdasarkan selera pribadi. Padahal yang membeli nanti belum tentu punya selera yang sama.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Misalnya kamu suka warna Sage.
Karena suka, akhirnya produksi:
-
Sage 50 pcs
-
Hitam 20 pcs
-
Putih 20 pcs
Sebulan kemudian yang habis duluan justru Hitam dan Putih.
Sementara Sage masih tersusun rapi di rak.
Bukan karena warna Sage jelek.
Tapi karena pasar biasanya punya kebiasaan yang berbeda dengan pemilik brand.
Orang Suka Warna Aman
Saat belanja pakaian, kebanyakan orang cenderung memilih warna yang mudah dipadukan.
Mereka berpikir:
"Kalau beli yang hitam, gampang dipakai ke mana-mana."
"Kalau putih, cocok sama hampir semua celana."
"Navy juga aman."
Karena itulah warna-warna basic sering jadi pilihan pertama.
Bukan warna yang paling menarik.
Tapi warna yang paling mudah dipakai.
Warna Unik Tetap Penting
Bukan berarti warna unik harus dihindari.
Justru warna unik sering menjadi identitas sebuah koleksi.
Masalahnya ada pada jumlah produksinya.
Kalau warna basic dan warna unik diperlakukan sama, risiko stok menumpuk jadi lebih besar.
Banyak brand lebih nyaman menjadikan warna unik sebagai pelengkap.
Sementara warna basic menjadi tulang punggung penjualan.
Jangan Pakai Logika "Kalau Saya Suka, Orang Lain Pasti Suka"
Ini jebakan yang cukup sering terjadi.
Pemilik brand adalah pembuat produk.
Pembeli adalah pengguna produk.
Keduanya belum tentu punya selera yang sama.
Kadang pemilik brand sangat menyukai warna-warna earth tone.
Sementara pelanggan mereka justru lebih sering membeli hitam, putih, dan navy.
Karena itu data penjualan biasanya jauh lebih berharga dibanding tebakan.
Kalau Baru Mulai Brand, Main Aman Dulu
Kalau belum punya data penjualan, warna-warna berikut biasanya lebih aman dijadikan fondasi awal:
-
Hitam
-
Putih
-
Navy
-
Abu-abu
Bukan karena paling keren.
Tapi karena pasarnya sudah terbentuk.
Setelah mulai ada penjualan, baru lebih mudah melihat warna mana yang benar-benar disukai pelanggan.
Lihat Tren, Tapi Jangan Bergantung pada Tren
Ada masanya warna Sage ramai.
Ada masanya warna Mocca dicari banyak orang.
Ada masanya warna-warna pastel muncul di mana-mana.
Tren bisa membantu menarik perhatian.
Tapi tren juga bisa berubah lebih cepat dari stok yang terjual.
Karena itu jangan sampai seluruh produksi bergantung pada satu warna yang sedang viral.
Kesimpulan
Memilih warna untuk produksi kaos bukan cuma soal warna yang paling disukai.
Yang lebih penting adalah memahami warna yang paling mungkin dibeli.
Warna favorit bisa jadi sumber inspirasi.
Tapi warna terlaris biasanya datang dari kebiasaan pasar.
Kalau masih bingung menentukan komposisi warna untuk produksi pertama, coba mulai dari warna-warna basic terlebih dahulu. Setelah data penjualan mulai terkumpul, keputusan produksi berikutnya akan terasa jauh lebih mudah.
