Kenapa Banyak Brand Baru Stoknya Numpuk?
Bayangin.
Semangat bikin brand lagi tinggi-tingginya.
Desain sudah jadi.
Konten sudah disiapkan.
Produksi sudah jalan.
Pas barang datang, rasanya pengen langsung sold out.
Tapi beberapa bulan kemudian, masih ada kardus yang belum kebuka.
Masih ada size tertentu yang numpuk.
Masih ada warna yang nggak gerak.
Kalau ini pernah kejadian, tenang. Kamu nggak sendirian.
Banyak brand baru mengalami hal yang sama. Bukan karena produknya jelek, tapi karena ada beberapa hal yang sering luput dihitung sebelum produksi.
1. Salah Prediksi Ukuran
Ini salah satu penyebab paling sering.
Karena belum punya data penjualan, banyak brand menebak-nebak komposisi size.
Biasanya polanya begini:
"Pasti banyak yang pakai L deh."
Akhirnya produksi:
-
S = sedikit
-
M = sedikit
-
L = banyak
-
XL = banyak
Pas mulai jualan, ternyata yang paling laku justru M.
Akibatnya?
Size M habis duluan.
Sementara L dan XL masih menumpuk di gudang.
Padahal calon pembeli yang datang belum tentu batal karena nggak suka desainnya.
Kadang mereka cuma nggak menemukan ukuran yang pas.
Kalau masih produksi pertama, lebih aman pakai komposisi size yang lebih seimbang atau riset dulu target market yang mau dibidik.
Karena anak SMA, mahasiswa, pekerja kantoran, sampai komunitas tertentu bisa punya pola ukuran yang berbeda.
2. Salah Prediksi Warna
Ada juga yang jatuh cinta sama warna tertentu.
Pas lihat sampel kain:
"Wah, warna ini keren banget."
Akhirnya langsung produksi banyak.
Masalahnya, warna yang keren belum tentu jadi warna yang paling dicari pasar.
Di lapangan, warna-warna aman seperti:
-
Hitam
-
Putih
-
Navy
-
Abu-abu
sering kali masih jadi pilihan utama.
Sementara warna yang lebih unik biasanya punya pembeli yang lebih spesifik.
Bukan berarti warna unik nggak boleh diproduksi.
Tapi kalau masih tahap awal, jangan sampai porsi warnanya lebih banyak daripada warna yang sudah terbukti aman.
Karena semakin banyak variasi warna, semakin banyak juga stok yang harus kamu simpan.
3. Produksi Terlalu Banyak di Awal
Ini jebakan yang sering muncul karena semangat.
Baru mulai brand.
Lalu langsung berpikir:
"Kalau sedikit nanti cepat habis."
"Kalau banyak, harga produksi lebih murah."
Akhirnya produksi ratusan pcs tanpa tahu seberapa besar permintaan pasar.
Padahal yang belum terjual bukan cuma barang.
Ada juga modal yang ikut tertahan.
Uang yang seharusnya bisa dipakai untuk:
-
Konten
-
Iklan
-
Foto produk
-
Pengembangan desain
malah berubah jadi tumpukan stok.
Produksi besar memang bisa membuat biaya per pcs lebih rendah.
Tapi kalau barangnya belum terjual, biaya yang murah itu belum tentu menjadi keuntungan.
Kadang produksi lebih sedikit justru memberi ruang untuk belajar lebih cepat.
Kamu bisa melihat:
-
Warna apa yang paling diminati
-
Size apa yang paling cepat habis
-
Desain mana yang paling disukai
Lalu menggunakan data itu untuk produksi berikutnya.
Jadi Harus Produksi Berapa?
Nggak ada angka yang cocok untuk semua brand.
Tapi kalau masih tahap awal, fokuslah mengumpulkan data terlebih dahulu.
Karena tujuan produksi pertama bukan selalu mencari untung sebesar-besarnya.
Kadang tujuan utamanya adalah mengenal pasar.
Semakin cepat kamu tahu apa yang disukai pelanggan, semakin kecil kemungkinan stok menumpuk di produksi berikutnya.
Kesimpulan
Banyak stok yang menumpuk bukan karena produknya jelek.
Sering kali masalahnya ada di perencanaan.
Mulai dari:
-
Salah prediksi ukuran
-
Salah prediksi warna
-
Produksi terlalu banyak di awal
Kalau masih membangun brand dari nol, jangan buru-buru mengejar jumlah besar.
Lebih baik produksi dengan perhitungan yang masuk akal, kumpulkan data penjualan, lalu gunakan data itu untuk langkah berikutnya.
Karena dalam bisnis clothing, yang paling mahal bukan biaya produksi.
Tapi stok yang diam terlalu lama di gudang.
