Salah Pilih Warna Bisa Bikin Produksi Nyesel

Waktu mau produksi kaos, banyak orang fokus ke desain.

Ada yang fokus ke bahan.

Ada juga yang fokus ke harga.

Tapi giliran pilih warna?

"Yang penting bagus."

Nah, justru di sini sering muncul masalahnya.

Karena warna yang kelihatan bagus di layar belum tentu bagus saat jadi produk.

Dan warna yang kita suka belum tentu warna yang dicari pasar.

Warna Bukan Cuma Soal Selera

Misalnya kamu suka warna hijau sage.

Lagi tren, estetik, feed Instagram jadi rapi.

Akhirnya langsung produksi banyak.

Pas barang jadi?

Yang laku malah warna hitam.

Sage masih numpuk di rak.

Bukan karena warnanya jelek.

Tapi karena target market kamu ternyata lebih nyaman beli warna aman.

Makanya sebelum produksi, penting untuk memikirkan siapa yang akan memakai produknya, bukan cuma warna apa yang sedang kita suka.

Terlalu Banyak Pilihan Juga Bisa Jadi Masalah

Kadang ada brand yang baru mulai tapi langsung bikin:

  • Hitam

  • Putih

  • Navy

  • Abu

  • Maroon

  • Army

  • Sage

  • Cream

  • Mocca

  • Dusty Blue

Kelihatannya lengkap.

Tapi stoknya jadi pecah ke mana-mana.

Misalnya produksi 100 pcs.

Kalau dibagi ke 10 warna, tiap warna cuma dapat sedikit.

Begitu ada satu warna yang laku, stok habis.

Sementara warna lain masih menumpuk.

Akhirnya modal tertahan di warna yang perputarannya lambat.

Warna yang Bagus Belum Tentu Cocok untuk Semua Desain

Ini juga sering terjadi.

Di binder warna kain, semuanya terlihat menarik.

Tapi saat desain sablon masuk, hasilnya bisa berbeda.

Ada desain yang lebih keluar di warna gelap.

Ada yang justru lebih cocok di warna terang.

Makanya banyak brand yang memilih warna kain setelah desain final selesai, bukan sebaliknya.

Karena warna kain dan desain seharusnya saling mendukung.

Jangan Hanya Mengandalkan Foto

Warna di foto sering menipu.

Pencahayaan berbeda.

Layar HP berbeda.

Filter kamera berbeda.

Yang terlihat cream di satu layar bisa terlihat lebih putih di layar lain.

Yang terlihat navy bisa terasa lebih gelap saat kainnya sudah ada di tangan.

Karena itu kalau memungkinkan, lihat sampel kain secara langsung sebelum memutuskan produksi dalam jumlah besar.

Warna Aman Tetap Jadi Andalan

Bukan berarti harus selalu bermain aman.

Tapi kalau masih meraba pasar, warna-warna dasar biasanya lebih mudah diprediksi.

Seperti:

  • Hitam

  • Putih

  • Navy

  • Abu

Bukan tanpa alasan warna-warna ini hampir selalu ada di berbagai brand.

Karena pasarnya memang luas dan lebih mudah dipadukan dengan berbagai gaya.

Setelah tahu pola pembelian pelanggan, barulah mulai eksplorasi warna lain.

Produksi yang Disesali Biasanya Bukan Karena Bahannya

Menariknya, banyak penyesalan produksi justru bukan datang dari pilihan bahan.

Bahannya sudah nyaman.

Kualitasnya sudah sesuai.

Sablonnya juga bagus.

Tapi warna yang dipilih ternyata tidak bergerak sesuai harapan.

Akhirnya produk menumpuk lebih lama dari yang diperkirakan.

Karena itu, memilih warna sebaiknya tidak hanya berdasarkan tren atau selera pribadi.

Lihat juga target market, konsep brand, dan kebiasaan pembeli.

Kadang keputusan kecil soal warna bisa menentukan apakah stok cepat berputar atau malah lama menunggu pembeli.

Jadi sebelum jatuh cinta sama satu warna tertentu, coba tanya dulu:

"Kalau saya jadi pelanggan, apakah saya benar-benar akan membeli warna ini?"