Takut Mulai Produksi, Takut Nggak Produksi Juga
Kalau KawanSAM lagi ada di fase ini, tenang.
Kamu nggak sendirian.
Karena jujur aja, banyak brand yang datang ke toko kain bukan karena nggak punya ide. Bukan juga karena nggak punya desain.
Malah seringnya semua sudah siap.
Nama brand sudah ada.
Logo sudah jadi.
Desain kaos sudah beres.
Instagram sudah dibuat.
Tapi satu hal yang belum jalan:
Produksinya.
Karena setelah semua persiapan selesai, biasanya muncul satu pertanyaan yang bikin maju mundur.
"Kalau ternyata nggak laku gimana?"
Dan dari situ, otak mulai bikin skenario sendiri.
Takut Salah Pilih Kain
Takut bahannya ternyata nggak sesuai ekspektasi.
Di layar HP kelihatannya bagus.
Pas datang ternyata terlalu tipis.
Atau justru terlalu tebal.
Akhirnya cari referensi lagi.
Bandingkan lagi.
Minta pendapat teman lagi.
Lihat video review lagi.
Sampai lupa kalau dari awal sebenarnya sudah ada beberapa pilihan yang cukup layak untuk dicoba.
Takut Salah Hitung Modal
Ini juga sering terjadi.
Mulai buka kalkulator.
Hitung biaya kain.
Biaya jahit.
Biaya sablon.
Biaya packing.
Biaya kirim.
Lalu tiba-tiba muncul angka yang bikin mikir.
"Wah, ternyata segini ya."
Padahal semua bisnis memang butuh modal untuk mulai.
Yang sering bikin berat bukan angkanya.
Tapi karena uang itu belum berubah jadi produk yang bisa dipegang.
Takut Produksi Kebanyakan
Kalau bikin banyak, takut stok numpuk.
Kalau bikin sedikit, takut cepat habis.
Kalau bikin satu warna, takut kurang menarik.
Kalau bikin banyak warna, takut nggak habis.
Ujung-ujungnya malah nggak jadi produksi sama sekali.
Padahal kadang masalahnya bukan jumlahnya.
Tapi karena kita berusaha mencari keputusan yang benar-benar sempurna.
Dan biasanya keputusan seperti itu memang nggak ada.
Tapi Nggak Produksi Juga Bikin Kepikiran
Lucunya, setelah menunda produksi beberapa minggu atau beberapa bulan, perasaannya juga nggak jauh berbeda.
Masih kepikiran.
Masih buka folder desain.
Masih lihat referensi brand lain.
Masih membayangkan bagaimana kalau produknya sudah jadi.
Karena sebenarnya yang bikin capek bukan proses produksinya.
Tapi berada terlalu lama di fase menunggu.
Brand Besar Juga Pernah Mulai dari Sedikit
Nggak semua brand langsung produksi ratusan atau ribuan pcs.
Banyak yang mulai dari jumlah terbatas.
Tujuannya sederhana.
Menguji pasar.
Melihat respons pembeli.
Belajar dari produksi pertama.
Karena produksi pertama bukan ujian akhir.
Produksi pertama biasanya justru jadi sumber pelajaran paling banyak.
Dari situ baru ketahuan:
-
Warna mana yang paling diminati
-
Ukuran mana yang paling cepat habis
-
Harga yang cocok di pasar
-
Bahan yang paling disukai pelanggan
Data seperti itu nggak bisa didapat hanya dari berpikir.
Harus dijalani.
Mulai dari yang Masuk Akal
Kadang kita terlalu fokus mencari momen yang sempurna.
Menunggu modal lebih besar.
Menunggu desain lebih bagus.
Menunggu kondisi lebih ideal.
Padahal setiap brand pasti punya versi "belum sempurna" saat pertama kali jalan.
Yang penting bukan langsung besar.
Yang penting mulai dengan perhitungan yang masuk akal.
Produksi sesuai kemampuan.
Pilih bahan yang sesuai target pasar.
Hitung risiko dengan realistis.
Lalu jalankan.
Karena kalau ditanya mana yang lebih menakutkan:
Produksi lalu belajar dari hasilnya?
Atau terus menunda sampai ide itu nggak pernah keluar dari folder desain?
Biasanya jawabannya sudah ada di kepala masing-masing.
Kadang yang dibutuhkan bukan keberanian besar.
Cukup keberanian untuk memulai satu langkah pertama.
