Mau Restock Kaos? Cek 4 Hal Ini Dulu

Jualan lagi lancar, stok mulai menipis, pesanan masuk terus.

Saatnya restock.

Tapi tunggu dulu.

Banyak brand mengira restock itu tinggal pesan ulang bahan yang sama, jumlah yang sama, lalu semuanya beres.

Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.

Ada yang warna kaosnya jadi sedikit berbeda.

Ada yang ukurannya berubah.

Ada yang fit-nya terasa beda meskipun desainnya sama.

Bahkan ada yang baru sadar supplier sebelumnya sudah tidak menyediakan bahan yang biasa dipakai.

Supaya restock tidak berubah jadi drama, ada 4 hal yang sebaiknya dicek dulu.

1. Pastikan Dye Lot-nya

Ini salah satu hal yang paling sering bikin kaget saat barang jadi.

Padahal sama-sama warna Navy.

Padahal nama warnanya juga sama.

Tapi pas disandingkan dengan produksi sebelumnya, kok terlihat sedikit berbeda?

Nah, biasanya ini berkaitan dengan dye lot.

Sederhananya, dye lot adalah kelompok hasil pewarnaan dari satu proses produksi tertentu.

Karena proses pewarnaan dilakukan dalam batch yang berbeda, hasil warnanya bisa saja memiliki sedikit perbedaan.

Kadang nyaris tidak terlihat.

Kadang cukup terlihat kalau dibandingkan langsung.

Kalau brand kamu berencana mencampur stok lama dan stok baru, pastikan konfirmasi soal dye lot terlebih dahulu.

Terutama untuk warna-warna yang sensitif seperti Navy, Maroon, Army, atau warna-warna pastel.

2. Jangan Asal Pakai Pola Lama

Banyak brand berkembang tanpa sadar.

Awalnya bikin kaos regular fit.

Beberapa bulan kemudian ternyata mayoritas pelanggan lebih suka potongan yang sedikit longgar.

Atau mungkin selama ini ada masukan dari pelanggan soal panjang badan yang kurang pas.

Momen restock bisa jadi kesempatan untuk mengevaluasi pola.

Coba lihat lagi:

  • Ada keluhan soal fitting?

  • Ada ukuran yang terasa terlalu sempit?

  • Ada bagian yang sering direvisi saat produksi?

Kalau memang perlu penyesuaian, lebih baik dilakukan sekarang daripada menunggu stok berikutnya habis lagi.

Karena kadang masalah produk bukan ada di kainnya.

Tapi ada di pola yang sudah lama tidak dievaluasi.

3. Cek Lagi Data Ukuran yang Paling Laku

Ini kesalahan yang cukup sering terjadi.

Produksi pertama:

  • S habis

  • M habis

  • L habis

  • XL masih banyak

Saat restock?

Jumlahnya dibuat persis sama seperti produksi pertama.

Padahal data penjualannya sudah memberikan petunjuk.

Sebelum restock, coba buka lagi data penjualan sebelumnya.

Lihat ukuran mana yang paling cepat habis.

Lihat ukuran mana yang paling lama tersimpan di rak.

Dengan begitu, komposisi size bisa dibuat lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Hasilnya?

Modal jadi lebih efisien dan risiko stok menumpuk bisa berkurang.

4. Pastikan Supplier Masih Sama Standarnya

Kadang fokus kita hanya ke produk akhirnya.

Padahal supplier juga perlu dicek ulang.

Beberapa hal yang bisa ditanyakan sebelum restock:

  • Apakah bahan yang sama masih tersedia?

  • Apakah spesifikasinya masih sama?

  • Apakah ada perubahan harga?

  • Apakah ada perubahan lead time?

  • Apakah warna yang dibutuhkan masih ready?

Jangan sampai semua materi promosi sudah siap, preorder sudah dibuka, tapi ternyata bahan yang biasa dipakai sedang kosong.

Konfirmasi di awal biasanya jauh lebih aman daripada mencari solusi di tengah jalan.

Restock yang Lancar Dimulai dari Persiapan

Restock memang terdengar lebih mudah dibanding produksi pertama.

Karena produknya sudah pernah dibuat.

Karena pasarnya sudah ada.

Karena desainnya sudah siap.

Tapi justru karena ingin hasilnya konsisten, ada beberapa detail yang tidak boleh dilewatkan.

Mulai dari dye lot, pola, ukuran, sampai supplier, semuanya punya pengaruh terhadap hasil akhir produk.

Jadi sebelum buru-buru pesan ulang, luangkan sedikit waktu untuk cek empat hal tadi.

Karena tujuan restock bukan cuma menambah stok.

Tapi memastikan pelanggan mendapatkan kualitas yang sama seperti saat mereka membeli produk kamu pertama kali.